Kiat Bentuk Anak Sehat dan Cerdas

Anak sehat dan cerdas tidak bisa diperoleh secara instan. Perlu dirancang dan dipersiapkan. Persiapan sudah harus dimulai sebelum kehamilan terjadi. Terus berlanjut selama kehamilan, bayi lahir, hingga beranjak besar.

Anak Sehat | Anak Cerdas

LiputanKami.com – Rangsangan, asupan makanan yang bergizi, plus pemberian ASI, ikut ambil bagian dalam menjadikan anak sehat
dan cerdas.

Kompetisi yang demikian ketat di dunia pendidikan maupun dunia kerja, membuat para orangtua menginginkan anak-anaknya kelak tumbuh menjadi manusia yang cerdas dan tentu saja sehat. Dampaknya, kebutuhan untuk mencapai tujuan tersebut harus dipenuhi.

Kebutuhan dasar anak mencakup nutrisi, pemberian ASI, imunisasi, kasih sayang, aspek moral, agama, etika, maupun keterampilan. Semuanya harus dipenuhi. Pada bayi, hal paling mendasar yang dibutuhkan bayi ada dalam ASI.

“ASI adalah asupan nutrisi dan stimulasi utama bagi bayi,” kata Dr. Nita Ratna Dewanti, Sp.A. ASI adalah nutrisi lengkap bagi bayi, yang tak hanya mempertajam kecerdasan bayi, tetapi juga meningkatkan daya tahan tubuh dan jalinan kasih sayang ibu dan anak. Dengan demikian, imbuh spesialis anak dari RS Premier Bintaro, Tangerang, bisa dikatakan ASI adalah hadiah paling berharga
bagi seorang bayi.

Ada banyak nutrisi penting yang mendukung perkembangan anak kelak, terutama perkembangan otak di masa emasnya. Masa emas perkembangan otak adalah periode saat otak berkembang dengan pesat. Perkembangan tersebut dimulai sejak trimester ketiga kehamilan dan berlangsung hingga usia 30 bulan.

Masa emas itu juga berhubungan dengan perkembangan pesat dari struktur dan fungsi otak yang baru. “Sekitar 25 persen dari otak dibentuk selama periode tersebut,” ungkap dokter lulusan FKUI itu.

Cerdas Karena ASI
Selama masa kritis itu, otak banyak membutuhkan AA dan DHA. Kedua komponen nutrisi tersebut dapat diperoleh dari ASI. Secara ilmiah, pemberian ASI dapat meningkatkan kecerdasan anak. Karena DHA (asam dokosaheksaenoik) menjadi salah satu nutrisi kunci untuk kecerdasan.

Saat anak sudah tidak mendapat ASI, kebutuhan DHA dipenuhi dari makanan sehari-hari. DHA
dapat diperoleh dari salmon, tuna, ayam, dan kepiting.

Komponen nutrisi yang juga penting bagi perkembangan otak adalah AA. BersamaDHA, AA (asam arakidonik) berperan tak hanya untuk otak, tetapi juga perkembangan penglihatan normal. Penelitian telah membuktikan bahwa AA dan DHA dapat meningkatkan perkembangan saraf dan kemampuan belajar pada balita. Bukti lain menunjukkan, penambahan DHA serta AA dalam makanan balita memberi efek menguntungkan untuk jangka panjang terkait dengan perkembangan penglihatan.

Asam sialik (SA) juga berperan dalam perkembangan otak dan proses belajar. Asupan SA dapat meningkatkan ingatan dan performa kognitif pada anak. SA ini sangat dibutuhkan oleh anak yang sedang tumbuh guna meningkatkan daya tahan tubuh, perkembangan fisik, dan juga mental. Diana Y Sari

Sumber : sehatnews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *